Selasa, 11 Januari 2011

TEMBANG DAKWAH 'WALI SONGO'

TEMBANG DAKWAH WALI SONGO
*** LIR-ILIR ***
Lir-ilir, lir-ilir Bangun! Bangun lah (dari tidur)
Tandure wis semilir, pohon sudah mulai bersemi
Tak ijo royo-royo demikian menghijau
Tak senggo temanten anyar bagaikan gairah penganten baru
Cah angon, cah angon, Anak penggembala, anak penggembala
Penekno blimbing kuwi Panjatlah pohon belimbing itu
Lunyu-lunyu yo penekno walau susah tetap panjatlah
Kanggo mbasuh dodotiro berguna untuk cuci pakaianmu
Dodotiro, dodotiro Pakaian-pakaian yang buruk
Kumitir bedhah ing pinggir disisihkan dan jahitlah
Dondomono jlumatono benahilah untuk
Kanggo sebo mengko sore menghadap nanti sore.
Mumpung padhang rembulane Mumpung terang remmbulannya
Mumpung jembar kalangane mumpung banyak waktu luang
Yu surako …..surak hiyo… mari bersorak-sorak hayo…

BUKAN SEKEDAR LAGU KANAK-KANAK……………..??????
LAGU YANG DIPOPULERKAN KEMBALI OLEH CAKNUN(EMHA AINUN NADJIB), SEORANG SASTRAWAN KONDANG KITA PADA SEKITAR TAHUN 2000 TERNYATA……ADALAH SALAH SATU SARANA DAKWAH MUBALLIGH AWAL NEGERI INI…….SUBHANALLAH!!!
Tembang Lir-ilir yang banyak dianggap lagu dolanan anak-anak ini sebetulnya adalah bukti kepandaian para Wali Songo dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat Jawa melalui cara yang sangat menyenangkan dan tak terasa menggurui. Kata-kata dalam tembang itu seolah-olah deretan kata-kata biasa saja yang menggambarkan keriangan dunia kanak-kanak. Namun jika dibaca sungguh-sungguh, akan banyak makna agamawi yang muncul.
Dimulai dari kata “bangun,bangunlah” dari keadaan tidur, yang sering dilihat para ulama sebagai keadaan mati sementara, akan timbul pertanyaan: Apany yang harus dibangunkan atau dihidupkan? Ruh-kah? Kesadaran? Atau Pikiran? Tetapi maksud kata “lir-ilir” yyang juga mengandung gerakan angin semilir ini bisa juga ditafsirkan sebagai imbauan lembut dan ajakan untuk berzikir. Zikir yang akan menghidupkan apa yang tadinya melenakan. Zikir untuk kembali siaga.
Tandure wis semilir tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar, diartikan jika Zikir sudah dikerjakan , maka akan menghasilkan kehidupan yang indah dan nyaman seperti pohon hijau yang rindang, yang bermanfaat sebagai tempat berteduh banyak makhluk Allah di muka bumi. Setelah itu, kalimat sesudahnya mengaitkan kesejukan dan rindang po hon dengan kesejukan pengantin baru. Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksudkan Wali Songo dengan “pengantin baru” adalah raja-raja di Jawa yang baru memeluk agama Islam (yang sebelumnya leluhur mereka biasanya memeluk agam Hindu atau Buddha). Pemahaman arti seperti ini karena dengan berpindahnya keyakinan seorang raja menjadi pemeluk Islam, biasanya juga akan diikuti dengan perpindahan keyakinan rakyatnya secara besar-besaran sehingga seperti pohon hijau yang rimbun, ijo royo-royo.
Cah angon, cah angon,(Anak penggembala, anak penggembala) maknanya; Penggembala adalah seseorang yang selalu mengarahakan hewan-hewan gembalanya agar tidak tersesat, layaknya seorang imam yang berkewajiban selalu membimbing makmumnya di jalan yang benar, betapapun sulitnya jalan itu. Kata “cah angon” itu adalah serua lembut kepada para imam, para pemimpin, ulama yang merasa punya kewajiban untuk mengarahkan rakyat sebagai makmumnya.
Penekno blimbing kuwi mempunyai makna yang sangat kuat karena belimbing adalah buah berwarna hijau dengan lima (5) sisi buah yang bisa dianggap sebagai symbol dari lima rukurn Islam. Sedangkan “penekno” merupakan ajakan kepada raja-raja JAwauntuk mengimbau masyarakat agar mengikuti jejak mereka untuk memeluk dan menjalankan syariat Islam.
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro memiliki arti walaupun cukup sulit untuk memperoleh “blimbingkuwi” itu, jika bisa didapat akan memudahkan mencuci pakaian. Pakaian disini maksudnya,jika blimbing kuwi dimaknai sebagai rukun Islam, maka jika seseorang sudah berpegang kepada rukun Islam maka akan mudah baginya untuk memebersihkan hati, pikiran, ketakwaan sebagai bagian dari “pakaian” yang digunakan sehari-hari. Sebab jika tidak dibersihkan secara rutin dan sungguh-sungguh, pakaian itu bisa cepat lusuh dan terlihat buruk di mata orang lain.
Karena itu, jika pakaian takwa dan keimanan sudah mulai terlihat lusuh, baris-baris kalimat “dodotiro,dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir “ yang berarti bahwa pakaian yang sudah lusuh harus segera dipinggirkan, bukan dengan maksud untuk dibuang, melainkan untuk dijahit kembali, diperbaiki agar secepatnya terlihat indah lagi.
“Domdomono jlumatono kanggo sebo mengko sore” (benahilah pakaian mu untuk menghadap nanti sore), sangat jelas maksudnya sebagai penanda waktu menyangkut kematian. Dengan demikian, seorang Muslim sudah selayaknya harus membenahi pakaian iman dan takwanya sebelum kematian datang “di waktu sore” atau ujung umur seseorang yang diperkenankan Allah SWT.
Tembang ini ditutup dengan imbauan yang sangat menyejukkan hati bahwa segalanya harus segera dilakukan “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane” yang bermakna “mumpung terang rembulannya, mumpung banyak waktu luang”. Karena jika sinar rembulan sudah redup, alam semesta gelap dan tak ada lagi waktu luang untuk berbenah, sia-sia saja seluruh keinginan untuk memperbaiki pakaian takwa jika waktunya sudah tidak memungkinkan.
Seluruh lagu ditutup dengan kata-kata riang gembira “yo surako surak hiyo”yang berarti sambutlah seruan ini dengan sorak sorai dan keceriaan untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. (ditulis kembali dari novel ‘SANG PENCERAH)
Dasar-dasar dakwah dan sikap Islam terhadap lawan (QS.An-Nahl:125)

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[845]. Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Kelebihan umat islam dari umat yang lain(QS.Ali-Imran:104 dan 110)

104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.
[217]. Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

DAKWAH ADALAH SUATU KENISCAYAAN BAGI SETIAP MUKMIN!
MENJADI BAGIAN DARI GOLONGAN ORANG YANG BERJUANG DALAM JALAN DAKWAH FII SABILILLAH ADALAH SESUATU YANG HARUS DISEGERAKAN!!
BILLAHI FII SABIILIL HAQ FASTABIQUL KHAIRAT!
(BERSAMA ALLAH DI JALAN KEBENARAN, BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN!!)

ISLAM AGAMAKU, IMM GERAKANKU!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar